Minggu, 30 September 2012

Pelanggaran Etika Dilingkungan



Pelanggaran Etika tanpa kita sadari sering di jumpai pada lingungan sekitar kita. Bahkan tidak menuntut kemungkinan kita lah pelaku dari pelanggaran etika tersebut. Dalam ligkungan tempat kita tinggal pun mempunyai etika sendiri agar lingkungan dapat terjaga kelestariannya dan kenyamananya. Tetapi dalam kehidupan sehari – hari sering terjadi pelanggaran etika lingkungan seperti salah satu contohnya membuang puntung rokok sembarangan, berteriak di tempat yang butuh ketenangan, membuat coretan pada dinding bangunan, menyemburkan asap rokok sembarangan, dan sebagainya.
Adapun contoh lain pelanggran etika yang dapat kita lihat salah satunya merokok dilingkungan sekolah. Kebanyakan jaman sekarang anak yang masih dibawah umur sudah merokok. Hal ini di landasi karena rasa ingun tahu / coba-coba , pengaruh teman / ligkungan.
Hal ini sangat disayangkan, karena anak di bawah umur yang sudah mulai merokok akan mengakibatkan terganggunya kesehatan, menggangu prestasi belajar, dan yang pasti melanggar peraturan sekolah.
Maka dari itu kita harus mencari solusi terbaik agar anak yang dibawah umur ini tidak lagi merokok. Salah satu solusi yang dapat kita lakukan adalah sering dilakukan penyuluhan di sekolah tentang bahaya merokok, pihak sekolah yang melihat muridnya merokok agar memanggil orang tuanya, dan yang paling penting memberi perhatian lebih kepada anak. Dengan begitu diharapkan anak yang sering merokok ini akan berhenti merokok.
            Masih banyak lagi pelanggran etika lingkungan yang dapat kita temui.Salah satu yang sering dilakukan anak remaja adalah pelanggaran etika berpacaran. Pacaran di zaman sekarang ini sangat mengkhawatirkan, karena banyak orang yang menganggap aktivitas pacar-pacaran sebagai suatu ikatan seperti layaknya suami isteri sebelum menikah. Dengan begitu banyak orang yang stress, galau, sedih dan bahkan sakit jiwa karena hubungan cinta dalam bentuk pacaran. Padahal agama kita tidak melarang pacaran yang seperti itu sehingga menimbulkan berbagai keburukan kepada para pelakunya.
Pacaran yang baik adalah pacaran yang terbatas hanya untuk saling kenal-mengenal satu sama lain sebelum meningkat ke arah pernikahan. Jika memang sudah cocok satu sama lain maka bisa berlanjut ke arah pernikahan. Namun jika tidak merasa cocok satu sama lain harus segera putus dan berpisah agar tidak terlanjut menimbulkan ikatan batin yang kuat pada salah satu atau pun keduanya. Pacar-pacaran yang sehat tidak melibatkan nafsu seksual dalam hubungan interaksi satu sama lain. Menentukan pacar juga tidak boleh didasari atas nafsu syahwat, semata karena dapat menutup akal sehat seseorang menjadi salah dalam memilih jodoh.

Berikut ini adalah beberapa peraturan, etika, norma dan sebagainya yang berkaitan dengan kegiatan pacaran antara laki-laki dengan perempuan (pria dan wanita / cowok dan cewek) :
1. Hanya Sebatas Perkenalan
Jangan pernah menjadikan pacar-pacaran sebagai sesuatu yang istimewa. Pacar tidak berbeda dari teman, namun teman yang ingin kita kenal lebih detil dan lebih mendalam secara serius. Apabila cocok bisa berlanjut ke pelaminan dan bila tidak maka akan tetap menjadi teman yang biasa-biasa saja.
2. Tidak Melakukan Kontak Fisik
Jangan melakukan sentuhan-sentuhan secara fisik karena hal tersebut dilarang oleh agama. Adanya kontak fisik bisa berakibat munculnya nafsu syahwat yang dapat merusak hubungan yang ada menjadi lebih buruk. Tidak hanya sebatas kontak fisik saja namun komunikasi dan perilaku yang dapat membuat disinya dan pasangannya menjadi terangsang juga tidak boleh dilakukan.
3. Tidak Mengganggu Isteri/Suami Orang Lain
Pacaran harus dilakukan dengan orang yang belum menikah (gadis/perjaka) atau dengan yang sudah bercerai (janda/duda). Kecuali bagi perempuan boleh berpacaran dengan lak-laki menikah yang memenuhi persyaratan untuk poligami serta tidak menimbulkan keburukan pada istri yang ada, anak-anaknya dan keluarga.
4. Dilakukan Secara Serius Dengan Tujuan AKhir Menikah
Jika tidak serius pacaran sebaiknya tidak usah pacaran. Karena jika pasangannya menanggapi hubungan pacaran tersebut terlalu serius bisa membuat dirinya terluka dan tersiksa karena cinta yang palsu. Hindari pacaran untuk tujuan pamer, ikut-ikutan trend, melampiaskan nafsu setan, iseng, balas dendam, main-main, dan lain sebagainya. Sejak dini harus segera menentukan sikap, apakah lanjut ke jenjang pernikahan atau selesai cukup sampai di sini saja demi kebaikan bersama.
5. Menjadi Pacar Bukan Berarti Memiliki
Tidak boleh mengatur-atur orang yang menjadi pacar. Tidak boleh pula melarangnya untuk mencari kandidat lainnya karena semua orang yang belum akad nikah masih boleh mencari yang terbaik untuk dijadikan suami atau isterinya. Kalau sekedar memberi masukan, nasihat, curhat, berbagi pengalaman, masih diperbolehkan. Kekerasan fisik maupun mental pun tidak boleh dilakukan sewenang-wenang.
6. Tidak Sembunyi-Sembunyi dan Menghormati Orangtua
Hindari pacaran diam-diam alias pacaran back street karena bagaimana pun juga para orangtua berhak menilai diri kita dan pasangan kita apakah layak untuk dinikahkan. kalau perlu jelaskan secara baik-baik kepada orang tua kita mengenai pacar kita dan minta tanggapannya sebelum kita perkenalkan. Orangtua berhak tidak menyetujui hubungan cinta anak-anaknya jika memang dapat menjelaskan atau membuktikan bahwa pacar anaknya dapat membawa keburukan serius.
7. Tidak Melakukan Keburukan Pada Pasangan
Kepada pacar beserta keluarganya kita tidak boleh berbohong, berkhianat, berlebihan, dan berbagai keburukan lainnya. Tidak boleh pula bersifat materialistis yang hanya mengejar harta dari pasangannya saja. Jika kita menjadi orang yang tidak baik maka resikonya adalah kita akan diputuskan oleh pacar kita dan nama baik kita tercoreng di mata orang-orang.
8. Pacaran Adalah Ujian dan Kompetisi
Kita harus siap menerima kekalahan dalam hubungan cinta ketika pacar kita lebih memilih orang lain yang lebih baik dari diri kita. Jangan salahkan orang lain jika kalah, namun salahkan diri sendiri kenapa dulu tidak maksimal berjuang untuk mendapatkannya menjadi pasangan hidup sah kita. Segala pengalaman yang ada akan sangat berguna bagi kita untuk memperbaiki kesalahan kita sehingga tidak mengulangi kesalahan yang pernah kita lakukan.
9. Tidak Berpacaran dengan Orang yang Berbeda Agama
Perbedaan keyakinan kita dengan pacar kita tidak hanya akan menyebabkan penolakan dari keluarga, namun juga dari negara dan masyarakat luas. Namun boleh-boleh saja jika pasangan kita ada kemungkinan untuk berpindah keyakinan. Lakukan semua ini hanya untuk Tuhan kita, bukan yang lain. Jika agama anda tidak melaran pernikahan berbeda agama, maka berarti anda boleh menikah dengan orang yang agamanya juga tidak melarang pernikahan beda agama.
10. Bina Hubungan Baik Dengan Orang Lain
Bina hubungan yang baik dengan lawan jenis yang mungkin bisa menjadi pasangan hidup kita (termasuk mantan dan orang yang pernah menolah cinta kita). Jangan hanya berfokus dengan pacar kita saja karena kita masih berhak untuk memilih yang lain yang lebih pantas menjadi suami/isteri kita. Jika merasa tidak cocok, maka segera katakan dengan terus terang untuk memutuskan tidak melanjutkan ke arah pernikahan dan seterusnya menjadi teman biasa saja.
    

1 komentar:

  1. Artikelnya bagus, tapi ini bukan menyangkut pelanggara etika LINGKUNGAN, ini hanya etika biasa saja atau bisa dibilang etika pada pacar/suami/ atau istri orang :)), but good job tho'

    BalasHapus